September 24, 2009

Makna Cinta

 

 

 

 

Padanan kata cinta di antaranya ialah kata suka, menaruh hati, jatuh hati dan lain-lain. Cinta berarti keinginan untuk memiliki sesuatu. Cinta bagi setiap orang mempunyai makna yang berbeda-beda. Cinta tidak berbentuk karena ia merupakan bentuk perasaan. Akan tetapi keberadaannya dapat diketahui lewat tingkah laku manusianya. Objeknya pun berbeda-beda. Bagi kanak-kanak, objek cinta berbeda dengan remaja dan orang dewasa. Kanak-kanak lebih menyukai mainan. Jika mainannya dirampas orang atau hilang, ia akan menangis. Ia selalu membawa mainannya itu ke manapun ia pergi. Ia tidak mau lepas dengan mainannya itu. Ini berarti ia telah jatuh cinta sama mainan yang dimilikinya.

Bagi remaja menjelang dewasa, cinta yang mengharu-biru hati mereka ialah  perasaan terhadap lawan jenis. Bisa lawan jenis satu kelas di sekolah, satu kampus, teman kecil, bahkan bisa juga kepada orang yang lebih muda.

Ujung dari perasaan cinta remaja ini ialah perasaan ingin memiliki dan bersatu dengan yang dicintai. Satu-satunya cara yang halal untuk bersatu ialah melalui jalan pernikahan.

Cinta bagi para remaja ini jika tidak disikapi dengan bijak akan menjurus kepada kemaksiatan, kerusakan moral dan kehancuran masyarakat. Ini disebabkan karena begitu kuatnya kebutuhan biologis yang sudah masanya muncul.

Beda lagi bagi orang-orang dewasa. Orang dewasa awal yang amat ia cintai ialah pasangan hidup yang baru ia dapatkan, atau anak/bayi hasil buah cinta mereka.

Bagi orang dewasa yang sudah tua, cinta kepada cucu juga membuat hidup mereka ceriah dan amat beda. Mahabesar Allah yang menyematkan cinta di hati hamba-Nya. Jika tanpa cinta di hati makhluk hidup, tentu kehidupan akan cepat punah. Dengan  tiadanya cinta di hati, seorang ibu rela membunuh anak yang baru dilahirkan

Lawan cinta ialah benci. Cinta dan benci adalah dua makhluk yang saling meniadakan. Jika cinta tumbuh, rasa benci perlahan sirna. Demikian juga sebaliknya, jika benci tumbuh, cinta perlahan sirna.  Akan tetapi, kadang cinta dan benci bersatu dalam satu hati. Yang sulit dan kasihan ialah hati yang dimasuki cinta dan benci secara bersamaan itu. Begitulah kata beberapa remaja yang pernah mengalami cinta dan benci dalam satu jiwa ini.

Cinta tidak berwujud. Ia bukan satu makhluk yang dapat dilihat, yang mempunyai mata, kaki, telinga atau organ tubuh lainnya. Ia ada. Keberadaannya membuat seseorang berbeda dan tampil beda dari biasanya. Orang yang sedang dihinggapi cinta bisa bertingkah aneh. Ia bisa berkorban apa saja demi orang yang dicintai. Ia bisa melakukan apa saja selama ia mampu melakukan, bahkan yang aneh-aneh pun bisa.

Banyak legenda menceritakan kekuatan cinta. Candi Prambanan  terjelma oleh cinta Bandung Bondowoso terhadap Roro Jonggrang, gunung Tangkuban Perahu tercipta oleh perahu Sangkuriang yang ingin berkencan dengan Dewi Sumbi. Keduanya ini dalam legenda.

Bangunan Mumtaj Mahal yang termasuk  keajaiban dunia pun tercipta oleh cinta. Cinta Syeh Jehan, raja yang berkuasa di tempat itu sangat besar terhadap istrinya yang sudah tiada. Cinta yang mendalam ia ungkapkan dalam bangunan yang cantik luar biasa, jadilah monument cinta, Mumtaj Mahal.

Selain itu,  banyak juga kehancuran sebuah bangsa akibat cinta,  tentu saja cinta yang buta, yang disertai oleh nafsu angkara murka.

 

Fitrah Manusia

 

 

 

 

Manusia patut bersyukur karena dalam dirinya terdapat cinta. Dengan cinta dalam diri manusia, kehidupan bisa berjalan dengan indah. Bagaimana seandainya seorang laki-laki tidak punya cinta kepada wanita, pernikahan tidak mungkin terjadi dan umat manusia pun musnah karena tidak bisa beranak-pinak.

Bagaimana kalau seorang ibu tidak punya cinta terhadap anaknya, kehidupan manusia pun akan musnah karena bayi mungil yang tidak berdaya itu tidak ada yang melindungi, memelihara dan sebagainya.

Dengan rasa cinta dalam hati seorang ibu, bayi dapat terjaga dari marabahaya. Sang ibu sanggup mengandung selama berbulan-bulan, dalam kondisi sengsara. Badan cepat lelah, tidur terasa  susah. Demi cinta anak yang ia kandung, ia pun rela mengandungnya. Tidur pun tidak sembarangan, ia cari posisi yang paling nyaman untuk dirinya dan paling aman untuk bayinya.

Rasa lelah dan susah tidak membuatnya benci terhadap anaknya, ia bahkan semakin meluapkan cintanya. Dini hari ia bangun dan mengetuk pintu langit.

“Wahai Tuhan kami berilahlah kami dari pasangan-pasangan kami dan anak keturunan kami hiasan mata, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa” (al-Furqan/25:74)

Karena cinta di hati pula seorang ayah dan ibu sanggup begadang di tengah malam menunggu buah hati yang kadang rewel. Karena cinta di hati pula orang tua sanggup membanting tulang mencari penghidupan demi anak, istri, keluarga dan orang-orang yang dicintai.

Seiring dengan perkembangan waktu, bayi yang mulanya lahir dari buah cinta suami istri akhirnya beranjak remaja. Ia pun berlahan-lahan menjumpai dirinya merasakan cinta. Ia tahu orang tuanya mencintainya, ia pun mencintai orang tuanya itu.  Berikutnya ia pun merasakan cinta yang lain-lain. Misalnya cinta pada mainan, benda-benda di sekelilingnya, bahkan kemudian ia pun merasakan jatuh cinta pada lawan jenis.

Maha Suci Allah yang telah menyematkan rasa cinta di hati hamba-Nya. Dengan cinta, manusia merasakan kebahagiaan dan kehidupan pun bisa berlanjut.

Manakala cinta hilang dari hati, ruangan yang asalnya  ditempati cinta pun kosong, maka bencipun merasuk. Bahkan sering kali cinta itu bermetamorfosis, menjadi benci begitu saja. Apa sebabny? Wallahu a’lam.

Akibat benci merasuki dada, kehidupan pun musnah. Seorang ibu tega menggugurkan kandungannya. Seorang ibu tega mencekik anaknya, suami membunuh istri, anak membunuh ayah, dan sebagainya. Naudzubillah.

Medan Cinta

 

 

 

 

Terhadap apa sajakah cinta manusia itu tertuju? Jawabnya tentu beraneka ragam bergantung usia, jenis kelamin, status sosial, tradisi dan faktor-faktor lainnya. Banyak hal yang menjadikan manusia jatuh cinta. Siapa orangnya, dewasa atau anak-anak, laki-laki atau perempuan, masing-masing mempunyai kecintaan sendiri-sendiri.

Ketika masih kanak-kanak, manusia lebih mencintai mainan daripada lainnya. Ke manapun ia pergi mainan senantiasa dibawanya. Ketika menginjak dewasa, rasa cinta beralih pada lawan jenis, saat menjadi orang tua kecintaannya berubah kepada anak-anaknya, jabatannya dan sebagainya. Menginjak usia tua, manusia juga merasakan cinta kepada cucu dan cicit. Begitulah medan cinta selalu berubah dengan dinamis.

Sering kali hari ini kita mencintai sesuatu, tetapi di hari berikutnya sudah tidak suka lagi, bahkan bosan dan benci. Allah sudah menyatakan kecintaan-kecintaan manusia itu dalam Firman-Nya:

dijadikan indah pada manusia kecintaan pada apa-apa yang diingini, yaitu wanita, anak-anak, harta yang banyak, dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah tempat kembali yang baik.” (Q.S. Ali Imron:14)

Hal-hal yang disebutkan dalam ayat di atas adalah medan-medan cinta umat manusia. Manusia biasa dan normal yang lebih menuruti kemanusiaannya akan mempunyai rasa cinta terhadap lawan jenis, anak keturunan, harta yang banyak, dan berbagai macam kesenangan dunia lainnya.

Bagi mereka yang normal, tetapi mengetahui hakikat tujuan hidup akan lebih dapat bersikap secara proporsional. Ia akan menikmati kebutuhan dunia ala kadarnya dan lebih mengutamakan cinta kepada Allah dan ridha-Nya. Mereka menjadikan kecintaan pada dunia hanya sekadarnya, tidak memprioritaskan. Mereka mencintai dengan penuh konaah dan takwa. Dalam meraihnya pun selalu menggunakan cara yang diridhai Allah.

Apalah arti harta berlimpah, tetapi didapatkan dengan berlumuran murka Allah, dengan mencuri umpamanya, korupsi, menindas manusia lain. Keresahan semata yang didapatkan di balik gemerlap dunia yang didapat dengan cara yang   penuh murka Allah.

 

Cinta yang

Membawa dosa

 

 

 

Seiring dengan bertambahnya usia, manusia yang dulunya kanak-kanak pun menginjak remaja, dan yang remaja pun menjadi dewasa, yang dewasa semakin tua dan yang tua akhirnya menghadap-Nya.

Tubuh anak-anak semakin berkembang. Berbagai perubahan fisik dan psikis terus terjadi menuju ke arah bentuk yang ideal. Di leher remaja laki-laki mulai tumbuh jakun, pinggul anak perempuan semakin melebar, buah dada pun semakin terlihat. Rambut-rambut khusus pun tumbuh di tempat khusus. Suara pun berubah. Yang laki-laki menjadi nyaring dan yang perempuan menjadi lembut.

Perubahan-perubahan itu diiringi perubahan sikap dan perasaan bagi masing-masing pihak. Kadang di masa ini anak sering salah tingkah jika bertemu temannya seakan ada sesuatu yang tersembunyi di hatinya. Inilah fase baligh dimulai. Secara biologis anak manusia sudah dewasa. Ia sudah mampu berperan sebagai pejantan dan betina. Cinta pada lawan jenis pun tumbuh. Saat seperti inilah nafsu biologis terhadap lawan jenis sudah mulai menjamah anak manusia.

Nafsu ini wajar dan normal, dan perlu disyukuri. Jika tidak ada nafsu ini dalam diri anak manusia kehidupan manusia akan musnah. Jika seorang anak tidak memiliki rasa ini,  ia patut bersabar karena ketiadaan nafsu ini berarti sebuah ketidaknormalan seseorang.

Allah memberikan nafsu biologis ini kepada anak manusia agar manusia dapat berperan sebgai hamba-Nya  sekaligus sebagai kholifah. Dengan nafsu ini manusia dijamin keberlang-sungan spesiesnya di dunia, selalu ada generasi penerus yang melanjutkan amanah. Nafsu ini termanifestasi, salah satunya dalam bentuk  cinta.

Kalau kita merasakan cinta terhadap lawan jenis di masa ini, kita patut bersyukur. Insya Allah kita termasuk manusia normal, termasuk anak cucu Adam yang dihormati Malaikat. Hanya saja, kita patut hati-hati dan waspada. Jangan sampai cinta di hati kita itu akhirnya menjerumuskan kita kepada murka Allah.

Dorongan biologis itu begitu kuat karena berasal dari dalam diri kita sendiri. Kadang hati kita bergetar manakala mendengar sebuah nama disebut. Wajahnya selalu lekat di pelupuk mata. Dia seakan selalu menemani kita, entah bersemayam di hati ataukah di dada. Pokoknya begitu indah, apalagi kalau dekat dengannya. Selalu ingin memandang-nya. Kalau di dunia ini ada delapan keajaiban dunia, yang satu ialah dirinya. Subhanallah betapa kuasa Allah menciptakannya.

Semua  aktifitas itu dengan lawan jenis haram dilakukan kecuali bagi mereka yang sudah menikah. Solusinya ialah hati-hati dan tidak dekat-dekat dengan zina.

Awas!

 

 

 

 

Eit, tunggu dulu. Perasaan cinta terhadap lawan jenis memang normal, natural dan indah bukan kepalang. Tapi jangan sampai kita jatuh pada cinta monyet, cinta yang membutakan mata, hati, telinga dan nalar kita. Jika kita tidak waspada dalam mengikuti dorongan naluri, kangen, rindu ingin bertemu, dan seterusnya dan seterusnya, akan binasalah kita.

Jika sudah ingin bertemu, secara naluri manusia akan ingin menyentuh, mendekap, dan akhirnya bersatu. Mau tidak mau jatuhlah kita ke dalam perzinaan, hubungan yang amat memalukan, dikutuk oleh agama, adat kesopanan, dan murka Allah. Berikutnya mungkin kita benar-benar menjadi monyet.

Zina dilarang oleh agama karena dapat merusak tatanan kehidupan. Derajat manusia menjadi sederajat dengan binatang. Binatang melakukan hubungan kelamin didasari oleh naluri semata, tanpa ada prosesi pernikahan. Manusia sebelum melakukan perkawinan harus didahului dengan pernikahan. Dalam Alqur’an (at-Tin: 2-4) Allah menandaskan:

“Sungguh manusia kami ciptakan dalam sebaik-baik bentuk. Kemudian kami kembalikan ia ke derajat serendah-rendahnya. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal soleh maka bagi mereka pahala yang tidak  terputus-putus.”

Manusia makhluk sebaik-baik bentuk karena ia mempunyai akal, pikiran, perasaan yang bisa untuk menimbang baik dan buruk. Ia kemudian jatuh menjadi makhluk yang paling jelek jika akal yang ia miliki, hati yang ia miliki tidak mampu ia gunakan secara semestinya. Ia jatuh kedalam perzinaan.

Selain itu, zina juga menggagalkan tujuan aturan agama. Salah satu tujuan agama itu ialah hifdzun nasl (menjaga jalur keturunan). Keturunan perlu dijaga karena kejelasan status keturunan mempunyai kaitan yang amat erat dengan aturan-aturan lainnya, misalnya aturan perkawinan, perwarisan, perwalian dan sebagainya. Oleh sebab itu, Allah memberi warning kepada kita agar tidak mudah-mudah mendekati zina, dan senantiasa waspada terhadap aktifitas yang mengarah kepada perzinaan.

“janganlah engkau mendekati zina. Sesungguhnya zina adalah dosa besar dan sejelek-jelek jalan.” (al-Isra’:32)

Hal-hal yang mendekatkan manusia terhadap perzinaan cukup banyak. Pandangan mata umpamanya. Sering kali pandangan mata yang tak terkendali akan mengantarkan manusia pada perzinaan. Awalnya hanya memandang. Apa sebabnya hatipun bergetar. Timbullah keinginan untuk memandang yang ke dua kali, ke tiga kali, bahkan berkali-kali. Jika sudah demikian, Iblis berjingkrak karena anak panahnya mengena.

Pandangan pertama adalah rahmat, tetapi pandangan ke dua dan pandangan-pandangan berikutnya adalah mata panah Iblis yang dibidikkan kepada anak Adam. Jika kurang iman, pandangan  mata itu akan dilanjutkan dengan aktifitas-aktifitas lainnya, misalnya tegur sapa, ngobrol, janjian, berdua-duaan, dan lain-lainnya. Beruntunglah kalau pandangan mata itu kemudian dilanjutkan dengan aktifitas yang sesuai dengan syariat Islam untuk menuju ke pernikahan.

Allahlah pencipta manusia. Ia sangat tahu potensi yang dimiliki oleh manusia. Potensi itu bisa mencelakakan, bisa juga menambah rahmat-Nya. Ia sudah membuat aturan agar manusia selamat. Dalam firman-Nya ia memberitahukan tentang potensi pandangan mata, maka Ia mengatakan.

Katakanlah kepada laki-laki mukmin, hendaklah mereka menundukkan pandangan-nya dan menjaga kemaluannya. Katakan pula kepada wanita-wanita mukmin hendaklah mereka menundukkan pandangannya dan memelihara kemaluannya” (an-Nur:29-30)

Kita diperintahkan menundukkan pandangan, artinya kita diwajibkan mengendalikan pandangan agar kita tidak melihat hal-hal yang tidak layak dilihat. Ini disebabkan pandangan akan menyisakan bekas di hati yang menjadikan kepekaan nurani manusia hilang.

Jika kondisi benar-benar sudah kritis, nafsu biologis sudah menggelegak dan tidak tertahankan lagi, Allah sudah mengemukakan solusi-Nya lewat lisan Rasul-Nya.

“Wahai para pemuda, barangsiapa yang telah sanggup menikah di antara kamu, maka hendaklah menikah. Sesungguhnya menikah itu dapat menentramkan hati dan lebih menundukkan pandangan. Dan barang siapa yang tidak sanggup, hendaklah berpuasa. Maka sesungguhnya puasa itu adalah perisai baginya” (H.R. Bukhori-muslim)

Cinta Yang Lain

 

 

 

 

Selain cinta pada lawan jenis, manusia juga diberi potensi untuk cinta pada kebutuhan-kebutuhan hidup di dunia, misalnya anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang.

Di zaman moderen ini kebutuhan-kebutuhan itu tentu bertambah, misalnya moge (motor gede), mercy,  sedan, pesawat terbang, bahkan mungkin chalenger. Semuanya ini mempunyai potensi untuk mendekatkan manusia pada-Nya, juga mempunyai potensi menjerumuskan pemiliknya. Allah mengatakan potensi yang menjerumuskan itu dalam firmnan-Nya

Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istri dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu. Maka berhati-hatilah terhadap mereka” (at-Taghobun: 14)

Keluarga Nabi Nuh adalah bukti riil ayat ini. Sekalipun Nuh seorang nabi, tetapi istri dan anaknya adalah orang kafir, tidak mau mengikuti ajaran Nabi Nuh. Anak dan Istri Nabi Nuh akhirnya ikut tenggelam dalam banjir yang mengazab umat Nabi Nuh yang kafir.

Inilah tamsil bahwa di antara anak dan istri kita kadang menjadi penghalang ajaran kita, penentang misi kita. Oleh sebab itu, cinta terhadap mereka tetaplah lebih rendah daripada cinta kita kepada Allah dan rasul-Nya.

Harta pun fitnah. Jika kita cinta harta secara berlebihan kita akan celaka. Jika harta kekayaan yang kita miliki tidak menambah kebaikan bagi kita, membuat kita sibuk mengelolanya hingga  kita melupakan tugas kita sebagai hamba Allah, itu berarti harta kita adalah fitnah bagi kita. Allah berfirman:

Sesungguhnya harta bendamu dan anak-anakmu menjadi cobaan (ujian) bagimu. Allah di sisinya pahala yang besar” (at-Taghobun: 15). Ayat senada juga disebutkan dalam al-Anfal: 28.

Dalam sejarah, fitnah harta ini pernah terjadi pada salah satu sahabat Nabi Muhammad saw. Sahabat itu ialah Saklaba. Mulanya, ia adalah sahabat Nabi yang amat taat. Ia amat miskin, tetapi paling rajin berjamaah di masjid. Tingkahnya aneh. Ia selalu tergesa-gesa pulang setelah salat selesai.

Hal ini membuat Nabi bertanya, mengapa tidak membaca wiridan atau berdoa setelah salat. Ternyata, ia buru-buru pulang karena di rumahnya istrinya sudah menunggu pakaian yang dikenakannya itu. Ia memang biasa bergantian pakaian dengan istrinya.

Saklabah ingin hidup kecukupan, bahkan kaya. Ia ingin Nabi mendoakan agar keinginannya itu terkabul. Akan tetapi Nabi khawatir kekayaan akan mendatangkan fitnah bagi Saklabah. Karena mendesak terus, akhirnya Nabi mendoakan Saklabah agar keinginannya terkabul. Entah dari mana, Saklabah akhirnya mempunyai kambing. Kambing itu beranak pinak dan semakin lama semakin banyak.

Kekhawatiran Nabi menjadi kenyataan.  Saklabah mulai terlambat jika ke masjid. Sebabnya ialah mengurus kambingnya terlebih dahulu. Semakin banyak kambingnya, Saklabah semakin lupa, bahkan durhaka. Jika petugas zakat datang untuk mengambil  zakat, ia menolak mengeluarkan. Kabar kelalaian dan keengganan Saklabah dalam membayar zakat itu sampai pada Rasulullah, Rasul pun murka dan akhirnya tidak mau menerima zakat dari Saklabah.

Mendengar Rasulullah murka, Saklabah takut dan ia mencoba  membayar zakat. Tapi terlambat karena Rasulullah sudah tidak berkenan menerimanya sehingga amil zakat pun tidak lagi mau menerima zakat Saklabah.

Rasulullah wafat, dan zakat Saklabah pun tidak ada yang mau menerimanya. Abu Bakar tidak mau menerimanya, Hal itu terus berlanjut sampai Amirul Mukminin Umar Bin Khotob pun enggan menerima zakat dari Saklabah. Akhirnya Saklabah benar-benar difitnah dan diperbudak oleh kekayaannya.

Kekayaan memang penting, tapi ridha Allah adalah lebih penting. ia merupakan tujuan manusia hidup. Bersyukurlah kita yang tidak diberi kekayaan yang berlimpah tetapi diberi kesehatan yang prima, kebahagian hidup, kemudahan menjalankan ajaran Allah, bisa beribadah dengan lancar.

Ibadah tidak hanya dengan kekayaan, tapi juga bisa dengan ilmu, tenaga, pikiran, bahkan senyuman. Di akhirat kelak kita akan dimudahkan oleh Allah, perhitungan amal kita cukup ringkas hingga lebih mudah melaluinya daripada orang yang banyak kekayaannya.

Bagi kita yang diamanahi kekayaan yang banyak, bersyukurlah kita karena itu merupakan keutamaan yang Allah berikan kepada kita. Dengan kekayaan itu insya Allah kita bisa melakukan ibadah dan beramal lebih banyak daripada jika kita tidak memiliki kekayaan. Insya Allah kita bisa membangun tempat ibadah, menyantuni fakir miskin dan anak yatim, membantu perjuangan di jalan Allah, bisa menunaikan haji, dan sebagainya.

Bagi yang belum diamanahi harta, maksudnya baru diberi harta secukupnya, hendaknya sabar. Yakinlah bahwa nikmat dan rahmat Allah itu tidak hanya berupa harta, kesehatan misalnya, jauh lebih berhara daripada harta.

Betapa indahnya kalau kita selalu kecukupan. Harta memang tidak melimpah ada di sekitar kita, tapi siapa tahu saat kita butuh, kebutuhan kita itu terpenuhi. Dengan kata lain, harta untuk kita memang tidak kita simpan, tetapi disimpan oleh Allah. Ketika kita butuh, harta itu ada. Dan kita harus yakin bahwa jatah untuk kita memang ada di sisi Allah.

 

 

Cinta yang Bernilai Ibadah

 

 

 

 

Benarkah ada cinta yang bernilai ibadah? Siapa bilang tidak. Selama ini mungkin kita hanya tahu bahwa cinta itu hanya tertuju kepada lawan jenis, anak keturunan, harta kekayaan, dan jabatan. Mungkin benak kita hanya mengasosiasikan bahwa cinta adalah perilaku muda-mudi  yang besepi-sepi, berdua-duaan, bergandeng tangan, berboncengan ke sana ke mari, nonton dan sebagainya.

Kalau cinta yang semodel ini memang bernilai dosa jika dilakukan oleh orang yang belum menikah. Hukumnya haram dan bernilai maksiyat.

Cinta yang bernilai ibadah itu ialah cinta kita kepada Allah, dan cinta kita kepada selain Allah sebagai wujud kepatuhan kepada Allah dan mengharap ridha-Nya. Allah menandaskan cinta yang bernilai ibadah ini

dan orang-orang yang beriman itu amat sangat cintanya kepada Allah.” Al-Baqarah: 165.

Ayat ini merupakan potongan ayat yang mengemukakan bahwa orang kafir amat mencintai tuhannya. Dalam prakteknya, orang-orang kafir sering kali memberi sesaji terhadap tuhannya. Praktek seperti itu batil dan bertentangan dengan nalar waras manusia.

Tuhan-tuhan orang kafir itu bisa berupa batu, arca, gerumbul, kuburan, pepunden dan sebgainya. Walaupun salah secara nalar, akan tetapi karena mereka sudah begitu cinta, maka segala nya menjadi indah. Dalam pandangan orang-orang kafir itu, tiada lagi cacat dalam amalan mereka.

Jika orang kafir sangat mencintai tuhannya, cinta orang-orang yang beriman kepada Allah lebih besar daripada cinta orang-orang kafir itu. Orang-orang mukmin senantisa memenuhi panggilan untuk menghadap Allah lima kali dalam sehari semalam, ditambah dengan ibadah-ibadah lainnya, seperti tahajjud, puasa dan sebagainya. Bahkan karena cintanya kepada Allah, orang-orang mukmin rela mati demi mencari ridha-Nya. Maha benar Allah dengan segala firmannya.

Sebagai reaksi dari cinta hamba-Nya, Allah pun mencintai hamba-Nya dengan kadar yang jauh lebih besar. Cara kita mencintai Allah ialah dengan mengikuti sunnah Rasul-Nya. Allah berfirman

katakanlah jika kalian mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian dan akan mengampuni dosa kalian. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun dan Maha penyayang (Ali Imron/3: 31)

Cinta yang didasari oleh cinta kepada Allah inilah cinta yang amat luhur. Kelak di akhirat orang yang saling mencintai karena dasar cinta kepada Allah akan mendapat naungan tatkala tiada naungan sedikitpun, sedangkan saat itu panas sangat terik menyengat.

Salah satu manifestasi cinta kita kepada Allah ialah kita mencintai rasul-Nya melebihi kecintaan kita kepada hal-hal lain. Nabi berabda dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari

Tidak beriman kalian hingga kalian lebih mencintai diriku daripada terhadap diri sendiri,  keluarga, hartanya dan seluruh manusia.”

kecintaan manusia sebagaimana dikemukakan dalam hadis ini pernah dipraktikkan umat manusia. Para sahabat Nabi sangat mencintai Nabi. Mereka rela mengorbankan nyawanya asalkan Nabi selamat.

Saat itu perang Uhud sedang berkecamuk. Pasukan muslim tercerai berai oleh serangan kaum kafir. Nabi sendiri terancam nyawanya. Maka para sahabat menjadikan dirinya sebagai perisai hidup bagi Nabi. Mereka tidak peduli terhadap goresan pedang, tusukan tombak, hunjaman anak panah. Mereka rela mati asal Nabi selamat.

Tatkala rombongan Nabi Muhammad pulang ke Madinah, di jalan ada seorang wanita yang berlari-lari menanyakan kabar Nabi kepada kaum muslim yang pulang duluan. Anak dan suaminya sudah syahid dalam perang Uhud. Akan tetapi ia tidak bersedih, asalkan Nabi tetap selamat.

Bagi kita yang hidup jauh masa setelah Nabi cara kita mencintai Nabi ialah mengukuti sunahnya, mematuhi perintahnya dan menjauhi larangannya dan bersholawat kepadanya,.

Cinta kita kepada Rasul harus sesusai dengan tuntunannya.  Kita patut berhati-hati jangan sampai kita mencintai Rasul secara melampaui batas seperti kaum Nasrani mencintai Isa yang melampaui batas.

Karena begitu besar cinta orang Nasrani terhadap Nabi Isa mereka menganggap Nabi Isa bukan hanya manusia biasa. Mereka bahkan memujanya dengan mengatakan sesuatu yang bukan ajaran Isa. Sesuatu yang bukan haknya pun diaku-akukan.

Bahkan kemudian mengangkat derajat Isa jauh melebihi dirinya. Isa diangkat sebagai bagian dari diri tuhan, sebagai bagian dari unsur trinitas. Allah menegasakan kekafiran orang yang beranggapan seperti ini

sungguh kafir orang yang mengatakan bahwa Allah adalah salah satu unsur trinitas” (al-Maidah/5:73)

Oleh sebab itu prinsip adil, yakni menempatkan sesuatu pada tempatnya,  harus senantiasa kita pegang. Kita mencintai Rasul Muhammad sebagaimana ia mengajarkan, tidak lebih dan tidak kurang. Bagaimanapun rasul Muhammad hanyalah seorang hamba yang kemudian diutus sebagai rasul. Maka kita mencintainya pun dalam posisi dia sebagai rasul.

Bercinta dan Masuk Surga

 

 

 

 

Islam sangat menganjurkan umatnya saling mencintai. Jika seluruh umat manusia saling mencintai, kedamaian akan segera dapat terwujud. Kedamaian adalah misi Islam   Muhammad diutus pun untuk menggalang kedamaian di muka bumi,

Dan tiadalah aku utus engkau Muhammad kecuali sebagai rahmat bagi alam semesta (QS. Al-Anbiya:107)

Salah satu bentuk rahmat itu ialah cinta.

Lantas bagaimanakah bentuk nyata sikap saling mencintai itu. Untuk mempermudah kita dalam menangkap tingkah laku yang menggambarkan manifestasi cinta, kita patut mencontoh Rasulullah dan generasi salaf.

Generasi salaf  inilah generasi terbaik bagi umat ini. Hal ini sebagaimana disebutkan Rasul Muhammad saw yang mengatakan bahwa generasi terbaik adalah generasinya (generasi sahabat), kemudian generasi sesudahnya (tabiin), dan generasi sesudahnya lagi (tabiut tabiin). Bagaimana selayaknya kita bercinta kita perlu tahu bagaimana ketiga generasi ini sling menyintai dan bersikap terhadap dunia.

Ayat Alqur’an banyak menceritakan perilaku generasi salaf dalam mencintai sesamanya, di antaranya.

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka.(al-Fath/48:29)

Nabi Muhammad sendiri adalah orang yang sangat lemah lembut bagi para sahabatnya. Ia merupakan bapak bagi umat ini. Tingkah lakunya senantiasa menebarkan kasih sayang kepada orang-orang sekelilingnya. Akan tetapi, tatkala musuh datang mengancam umat-Nya, Dialah yang paling pemberani. Bahkan dengan dajjal sekalipun, Nabi Muhammad akan melawannya, seandainya ia masih hidup. Antara sahabat yang berlainan tempat lahir pun mereka saling mencintai. Hal ini misalnya terjadi antara muhajirin dan anshor.

Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung ( al-Hasyr:9)

Selain Alqur’an di atas, banyak juga hadis yang menceritakan perilaku para sahabat dan orang-orang beriman terhadap sesamanya.

Dari Anas ra, Nabi bersabda, tiga hal, siapa yang di hatinya terdapat tiga hal itu ia akan merasakan nikmatnya iman. Allah dan rasul-Nya lebih ia cintai daripada yang lain, seseorang mencintai sesuatu karena Allah, dia benci jika ia kembali pada kekafiran setelah Allah mengentaskannya sebagaimana ia benci jika ia dijerumuskan pada neraka. Muttafaq alaih

Dari hadis Nabi tersebut jelas dapat kita tangkap bahwa cinta merupakan satu hal yang penting dalam Islam.

Islam sangat menganjurkan  rasa cinta menghiasi hati seluruh umat manusia. Akan tetapi yang perlu dicatat ialah, cinta dalam Islam bukan didorong oleh nafsu biologis antara pejantan dan betina sebagaimana yang dimiliki oleh binatang. Cinta umat Islam ialah bagian dari  cinta Allah kepada hamba-Nya. Maka yang harus   diutamakan ialah cinta kita terhadap manusia demi mendapatkan ridha Allah.

Hal ini ditegaskan dalam hadis di atas dengan ungkapan  seseorang mencintai sesuatu karena Allah, dia benci jika ia kembali pada kekafiran setelah Allah mengentaskannya sebagaiana ia benci jika ia dijerumuskan pada neraka. Oleh sebab itu, para nabi pun merelakan kerabat yang dicintainya diazab oleh Allah akibat kerabat-kerabat itu durhaka kepada Allah.

Nabi Nuh sebenarnya amat mencintai keluarganya. Ia protes kepada Allah karena anaknya yang turut diazab Allah hingga tenggelam dalam banjir. Atas protes Nabi Nuh ini Allah menjawab bahwa anaknya yang kufur itu bukanlah keluarganya.

Dan Nuh berseru kepada Tuhannya sambil berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya.” (Hud: 45)

Allah berfirman: “Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya (perbuatan)nya perbuatan yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakekat)nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan.” (Hud:46)

Dari peristiwa ini kita tahu bahwa cinta yang utama ialah cinta karena Allah. Kita mencintai seseorang karena mengharap ridhanya. Di akhirat kelak orang-orang yang saling mencintai karena mengharap ridha Allah ini akan mendapat naungan di saat tidak ada naungan sedikitpun. Hal ini dijelaskan Nabi dalam sabdanya

Dari Abu Hurairah, Nabi bersabda tujuh golongan yang Allah naungi dengan naungan-Nya tatkala tiada naungan kecuali naungan-Nya: imam yang adil, pemuda yang sibuk beribadah kepada Allah, laki-laki yang hatinya tergantung dengan mesjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah bertemu karenanya dan berpisah karena-Nya. Laki-laki yang dipanggil wanita yang punya pangkat, cantik ia berkata sesungguhnya aku takut kepada Allah, laki-laki yang bersodaqoh ia menyembunyikannya sampai-sampai tangan kirinya tidak tahu apa yang disodaqohkan tangan kanannya, dan laki-laki yang ingat kepada Allah di kala sunyi hingga kedua matanya basah. Muttafaqun alaih.)

Hadis ini dengan jelas menyebutkan mereka itu ialah dua orang yang saling mencintai karena Allah bertemu karena-Nya dan berpisah karena-Nya. Hadis yang lain menyebutkan

Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda. Sesungguhnya Allah yang Mahatinggi berfirman, di mana orang-orang yang saling mencintai dengan keagunganku? Pada hari ini aku naungi mereka dalam naunganku saat  tiada naungan kecuali naunganku. HR Muslim.

Subhanallah, betapa luhur cinta. jika bingkainya ridha Allah, cinta dapat menghantarkan kita meraih kebahagiaan dunia dan akhirat

Tips Cinta bagi Remaja

 

 

 

 

Berat memang kalau kita mencintai seseorang karena mencari ridha Allah, terutama bagi para remaja yang baru mengawali masa baligh, tatkala perasaan terhadap lawan jenis sedang mekar-mekarnya. Benar-benar sebuah siksaan di masa ini. Ingin mendekat tetapi takut terkena panah iblis, kalau tidak mendekat dengan si dia mengapa selalu terbayang-bayang.

Jika sudah terkena panah iblis, berikutnya amat rawan menjadi tawanan iblis. Jika tidak kuat pasti akan terjerumus  kedalam tipu daya Iblis. Bagi mereka yang mengumbar hawa nafsu mereka amat rawan akan terjerumus dalam perzinaan.

Kita, Bani Adam  ini amat lemah. Dengan hati kita sendiri pun kita belum tentu mampu menguasainya. Apa lagi di sana ada iblis yang selalu menebar racun. Atas kelemahan kita ini kita patut melakukan langkah-langkah berikut:

1  Selalu bersyukur kepada Allah karena kita termasuk orang yang normal

2  Selalu mendekatkan diri kepada Allah dan  yakin bahwa Cinta kepada Allah, demi mengharap ridhonya adalah segala-galanya.

3. Jika perasaan cinta tumbuh akibat perkembangan kedewasaan kita, perbanyak puasa, banyak olah raga dan salurkan energi cinta itu menjadi energi prestatif.  Banyak karya-karya monumental karena didorong oleh energi cinta.

4. Jika Anda berkomitmen menjadikan dia sebagai pasangan hidup, jagalah dia. Caranya jangan ganggu dia, jangan ajak berdua-duaan, apalagi bersepi-sepi. Ini akan membuat dia terjaga dari dosa dan kelak Anda akan mendapati dia sebagai orang yang murni, suci, belum tersentuh orang lain.

5.Yakinlah bahwa setiap orang sudah ditentukan jodohnya. Rumus jodoh kita ialah  diri kita sendiri. Jika kita ingin dapat jodoh yang baik, diri kita harus baik. Jika diri kita brengsek jangan salahkan nasib kalau kita dapat jodoh brengsek. Allah sudah menegaskan.

     Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga) (QS. an-Nur:26)

6.  Jika sudah siap menikah, segeralah menikah. Ini akan lebih menjaga diri Anda dari fitnah. Urusan rezeki, asal Anda berani mengarungi hidup, berani berjuang, berani ikhtiar dan yakin dengan kekuasaan Allah. Insya Allah rezeki akan mengalir. Bukankah kita semuanya ini sudah dijatah rezekinya oleh Allah. Tugas kita ialah menjemput rezeki itu.

Trend muda-mudi sekarang ini ialah mencari jodoh gaya para artis yang bergelimang harta, hidup dari satu pesta ke pesta berikutnya. Mereka bekerja  memerankan peran satu ke peran yang lainnya. Rata-rata wajah mereka cantik dan ganteng. Produser pun tahu wajah yang laku jual, ialah wajah yang ganteng dan cantik

Ya, namanya juga pemain sinetron, semuanya bisa diatur, direkayasa, termasuk urusan cinta mereka. Jika mereka jatuh cinta mereka langsung tubruk, jadilah cerita-cerita cinta penuh nafsu terpampang di TV. Mereka pacaran bertahun-tahun, ujung-ujungnya tidak jadi menikah. Inilah bukti bahwa jodoh di tangan Allah.

 

 

 

Saling Berucap Salam

 

 

 

 

Kelihatannya amat remeh. Setiap bertemu berucap “assalamu’alaikum” pada setiap muslim yang ditemui. Namun jika direnungkan secar mendalam betapa agung ucapan itu. tidak heran apabila Rasulullah pun memerintahkan umatnya untuk berucap salam

Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda. Demi dzat yang jiwaku ada di tangannya. Kalian tidak akan masuk surga sehingga kalian beriman, dan kalian tidak akan beriman hingga kalian saling mencintai. Maukah kalian aku tunjukkan sesuatu yang jika kalian lakukan kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian. HR muslim.

Adakah orang yang saling memendam kebencian lantas mengucap salam, atau sekedar menyapa? kebanyakan tidak saling menyapa. Rasulullah menganjurkan sesama muslim jika bertemu saling berucap salam akar. Ucapan salam merupakan doa bagi orang yang diberi salam

“semoga keselamatan, rahmat Allah dan barakah-Nya tetap atas kalian.”

Di dunia ini apakah yang lebih berharga melebihi keselamatan, rahmat Allah dan barakah Allah? Oleh sebab itu, orang yang diberi ucapan salam wajib hukumnya menjawab yang sepadan, bahkan diutamakan yang lebih baik.

“Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan (ucapan salam), maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhi-tungkan segala sesuatu. (An-Nisa’:86)

Kadang kita bertemu dengan seorang teman dalam sebuah urusan. Karena begitu buru-buru teman kita menyapa kita dengan berucap salam

“Assalamu’alaikum”

Memang, ucapannya hanya sepotong, tapi dari sepotong itu terkandung banyak makna. kita akan merasakan, teman kita itu ingat sama kita, teman kita itu tidak angkuh, teman kita itu suka menyapa, dan berbagai perasaan dan prasangka positif lainnya.

Yang lebih penting lagi ialah teman kita itu mendoakan selamat bagi kita, tidak hanya selamat saat bertemu, atau selmat saat berpisah, saat pagi atau siang, tetapi selamat untuk selamanya. Bahkan selmat itu kemudian melekat dengan diri kita, menjadi sifat kita.

Sebagai orang yang didoakan selamat, wajib hukumnya bagi kita untuk menjawab ucapan selamat itu. paling tidak dengan ucapan yang semisalnya

“wa’alaikum salam”

Lebih utama lagi kita menjawab dengan jawaban yang lebih baik, yaitu jawaban yang lebih panjang dan lengkap.

“wa’alaikum salam warahmatullahi wa barakaatu”

Kita tidak tahu dari mulut siapakah doa itu akan dikabulkan. Semakin banyak orang yang mendoakan kita berarti semakin besar peluang kita selamat karena Allah mengabulkan doa doa kita. Semakin banyak kita berucap salam kepada saudara kita, semakin banyak saudara kita mendoakan kita

Penulis pernah merasakan indahnya ucapan salam. Saat itu penulis turut rombongan sebuah SMA berwisata ke Bali. Sebuah daerah asing bagi penulis. Tidak kenal siapapun. Saat itu di sebuah tempat wisata, Kami menikmati suasana. Ada wisatawan domestik lainnya, seorang laki-laki umur empat puluhan bersama keluarga. Dua orang anak gadisnya berkerudung.  Beberapa kali kami bertatap mata, tapi penulis belum  tahu cara membuka percakapan. Suasana jadi agak kikuk. Beberapa saat kemudian penulis ucapkan salam  kepadanya sambil tersenyum dan mengulurkan tangan, berjabat tangan.

Ia jawab salam penulis dan ngobrol pun jadi lancar. Benar dugaan penulis. Bapak itu bersama keluarganya  berasal dari daerah yang sama dengan penulis.

Luar biasa, hanya dengan “assalamu-’alaikum” suasana jadi cair. Salam menjadi pembuka sebuah percakapan yang cukup efektif. Perasaan yang timbul dari ucapan itu ialah kita merasa saudara, senasib dan kita bukan orang asing. Berawal dari kondisi ini perasaan saling mencitai sebagai sesama saudara pun timbul. Paling tidak di hati orang yang saling berucap salam tidak ada rasa benci.

Dalam hadis yang lain pun, Rasulullah menyebutkan, “wahai manusia sebarkanlah salam. distribusikan makanan, sambung tali kekeluargaan, sholatlah tatkala manusia tidur, dan masuklah surga dengan selamat” (HR. at-Tirmidzi)

Iso! Iso!, Jare sopo toh ra iso

Desember 27, 2008

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.